Minggu, 20 Oktober 2013

CERPEN




Aku siswa kelas 3 SMA yang sedang mempersiapkan diri mengikuti ujian di PTN untuk mencari fakultas kedokteran. Orang lain biasa memanggilku Ida. Hari aku sedang mencari buku-buku kedokteran di perpustakaan daerah. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara hp ku. Aku segera keluar untuk menjawab telpon dari ibuku.
“Ida jangan lupa hari ini kita akan menjenguk Arya,” kata ibuku mengingatkan.
“Iya Biang, sebentar lagi Ida mau pulang.”
Aku kembali ke dalam perpustakaan setelah telponnya diputus. Aku memilih duduk di bangku dekat jendela. Aku ingin membaca sedikit buku-buku yang telah ku kumpulkan. Tapi rasanya pikiranku tak tertuju ke buku-buku itu. Mataku melayang keluar jendela. Ku perhatikan hari ini langit begitu cerah.
“Hem, ternyata hari ini genap 5 tahun ia pergi,” kataku dalam hati.
Aku mengurungkan niatku untuk membaca. Aku bergegas pulang, namun sebelum sampai rumah aku ke toko bunga. Menjenguk seseorang akan sangat cocok kalau dibawakan bunga. Aku memilih bunga mawar kuning. Kata orang ini melambangkan persahabatan. Sesampainya di rumah ternyata Ayah dan ibuku sudah menunggu.
“Ida, kamu akan ke rumah sakit sekarang atau nanti?” tanya ayahku.
“Nanti malam saja Aji.”
“Kalau nanti malam, Aji sama Biang tak bisa mengantarkan.”
“Ida bisa pergi sendiri kok.”
Setelah itu kami berangkat menjenguk temanku Arya di tempat peristirahatan terakhirnya. Ketika kami sampai, aku segera menuju ke pemakamannya. Gudukan tanah yang berwarna coklat kemerahan itu masih sama seperti sebelumnya.
“Hai Arya, apa kabar? Lihat hari ini aku datang lagi dan tak menangis. Kamu senang kan sekarang?”
“Ow iya, aku sekarang akan tamat SMA dan akan melanjutkan ke fakultas kedokteran seperti yang kamu inginkan dan seperti yang aku inginkan juga. Untuk menyembuhkan orang-orang yang menderita penyakit seperti kamu, ah.. seperti kita. Doakan aku supaya bisa ya!”
Aku membelai nisan yang memampangkan namanya dengan penuh kasih sayang. Lalu meletakkan bungan mawar kuning yang tadi kubeli. Kemudian ayah dan ibu datang membuyarkan lamunanku. Tak hanya mereka, ternyata ayah dan ibunya Arya juga datang bersamaan dengan kami. 2 jam kemudian kami pulang. Perlahan-lahan pemakaman itu menjauh dari pandanganku.
Hari sudah malam ketika aku sampai di depan rumah sakit. Aku masih memandangi gedung itu dari luar dengan pandangan sayu. Mataku tertuju pada atap gedung rumah sakit ini. Aku ingin segera menuju kesana. Aku melangkahkan kakiku untuk masuk ketika tiba-tiba seorang suster mengagetkanku. Ia suster yang merawatku ketika aku sakit 10 tahun yang lalu. Dan setiap aku datang kesini ia selalu mengingatku.
“Seperti biasa kah? Atap rumah sakit?” tanya Suster itu. Ia tahu kebiasaanku selama ini.
“Iya suster, sudah 5 tahun berlalu.”
“Benar, gadis kecil sekarang sudah menjadi dewasa. Jka ia masih hidup pasti kalian akan menjadi pasangan.” Kata suster itu sambil tersenyum nakal. Aku pun tersenyum dan ku rasa sekarang pasti mukaku memerah karena kata-katanya. Aku pun pamit padanya dan segera menuju ke atap rumah sakit.
“Aku selalu merindukan tempat ini, karena ada seseorang yang selalu ingin ku lihat di sini,” kataku pada diri sendiri. Aku sudah ada di sudut atap rumah sakit itu. Aku memandang ke langit melihat bintang yang benderang disana. Aku tersenyum melihatnya.
“Lihat, bintang selalu bertaburan banyak dan cahayanya selalu benderang setiap peringatan hari kematianmu Arya. Dulu kita juga bertemu di tempat ini dan di bawah langit yang seperti ini.”
Lalu fikiranku melayang kembali ke 5 tahun yang lalu.
Aku sedang dirawat di rumah sakit ini karena penyakit ginjal kronis. Kedua ginjalku sudah tak berfungsi dengan baik. Meski umurku masih 13 tahun tapi aku tetap mengalami yang namanya cuci darah. Dan itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Karena sudah semakin parah, aku pun harus opname di rumah sakit ini. Aku kira aku telah mendekati kematian. Melihat ayah dan ibuku yang berjuang mempertahankan nyawaku aku menjadi tak tega pada mereka. Ayahku memang PNS tapi setelah merawatku dari dulu tentu biayanya sudah sangat banyak. Dan ibuku hanya ibu rumah tangga biasa. Karena tak tega membiarkan kedua orang tuaku menanggung biaya besar untuk terus merawatku, maka malam itu aku membuat keputusan untuk mengakhiri hidupku lebih dulu. Di tempat ini juga yaitu atap rumah sakit ini. Aku berencana akan melompat dari atap gedung ini. Tetapi sebelum ku lakukan niatku, seseorang menarikku ke belakang dan menyadarkanku bahwa itu salah. Dan ia adalah Arya. Jadi di tempat ini kami bertemu dan mulai berteman.
Belakangan aku tahu, ia memang sering ke atap rumah sakit malam-malam untuk memandangi langit. Langit dengan penuh taburan bintang yang bercahaya benderang adalah kesukaannya. Dan aku akhirnya tahu ternyata ia ada di rumah sakit ini Karena menderita talasemia. Itu penyakit keturunan yang ia derita sejak lahir. Ayahnya bahkan mendirikan rumah sakit ini karena hal itu. Waktu itu ia juga berumur 13 tahu sama sepertiku. Kami telah menjadi sahabat dalam beberapa minggu.
Beberapa hari kemudian ibuku terlihat sangat senang. Ia bilang aku akhirnya mendapatkan donor ginjal yang cocok. Aku juga sangat senang mendengarnya. Itu artinya aku bisa hidup lebih lama lagi. Aku sadar aku mulai punya gairah hidup lagi sejak berteman dengan Arya. Sebab ia mengajariku banyak hal dari hidup yang ia jalani. Penyakitnya bahkan lebih parah dan telah ia alami lebih lama dariku. Tapi ia tak pernah meyerah dengan hidupnya. Saat ku tanya mengapa bisa? Ia selalu menjawab, “mungkin suatu saat hidupku akan berguna untuk orang lain.” Ku rasa bukan suatu saat, tapi sekarang. Sebab sekarang hidupnya telah berguna bagiku. Aku sempat terkejut ketika ia menanyakan cita-citaku. Aku menjawab orang yang sekarat tidak punya waktu untuk memikirkan cita-cita. Tapi berbeda dengannya, ia bilang ia punya cita-cita yaitu menjadi dokter. Untuk mengobati orang-orang yang sakit sepertinya. Itu membuatku semakin mengaguminya.
Ketika aku menjalani operasi donor ginjal, sebenarnya yang ingin ku lihat pertama kali saat aku membuka mata adalah dia. Tapi sayang yang ada hanya surat peninggalannya. Kata-kata yang selalu ku ingat dari suratnya adalah,
“Kutitipkan cita-citaku untuk kamu teruskan. Aku menemukan orang yang membuat hidupku menjadi berguna yaitu kamu. Hanya sebagian kecil dari anggota tubuhku yang ada padamu. Semoga kamu jaga dengan baik.”
Jika ku ingat saat-saat itu, aku selalu menangis dibuatnya. Tetapi ia ingin aku tak menangis lagi. Ia memberikan ginjalnya padaku. Dan aku akan meneruskan cita-cita menjadi dokter. Malam sudah larut ketika aku beranjak meninggalkan tempat kenangan itu.
Seminggu kemudian aku menghadapi ujian itu, ya.. ujian untuk mewujudkan mimpinya. Ah.. tidak, sekarang ini juga menjadi mimpiku. Dengan penuh keyakinan ku kerjakan soal-soal yang kini kuhadapi. Kabar baik itu datang dua minggu setelah ku hadapi soal-soal ujian itu. Tentu itu adalah kabar yang paling kutunggu-tunggu saat ini. Aku diterima di PTN yang ku inginkan dan fakultas kedokteran juga. Kini aku siap memulai pencapaian mimpi kami. Malam harinya ku tatap lagi bintang-bintang yang benderang itu di langit. Dan sesungguhnya seorang Arya telah menjadi bintang benderang dalam hidupku. Sama seperti bintang-bintang yang ia sukai yang kini bercaha cemerlang di gelapnya langit malam ini.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar